Refleksi Tentang Budaya Positif
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Saya Rahmi Rauf, Calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Pada kesempatan ini saya akan menulis jurnal refleksi dwi mingguan pada modul 1.4 tentang Budaya Positif. Jurnal ini saya buat untuk melakukan refleksi diri setelah mempelajari modul 1.4 Budaya Positif. Saya menggunakan model 1 yaitu model 4F yaitu : Fact (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan) dalam penulis jurnal refleksi.
Model 1 : 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):
- Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?
- Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut.
- Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?
- Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?
1. Facts (Peristiwa):
Selasa, 14 Mei 2024, Kegiatan mulai dari pendahuluan, dimana kami disuguhi sebuah video “ Pengantar Budaya Positif”. Belajar adalah modal besar pengajar. Dalam video tersebut kami dikuatkan dengan kata “modal utama guru penggerak adalah semangat untuk belajar”. Sehingga kami sebagai guru penggerak harus tetap bersemangat untuk terus belajar. Kami juga diingatkan kembali bahwa budaya positif yang diterapkan di sekolah dapat membentuk karakter murid, guru (semua warga sekolah) dan visi, misi sekolah. Kemudian saya memulai belajar dengan dimulai dari diri dan eksplorasi konsep secara mandiri. Kami diajak untuk coba mengamati lingkungan sekolah Saya sendiri saat ini, bagaimana suasananya? Bagaimana murid-murid saling berinteraksi, bagaimana guru saling bertegur sapa, bagaimana guru menyapa murid, bagaimana guru menyelesaikan suatu permasalahan atau konflik antar murid? Suasana atau budaya yang berkembang di sekolah Saya saat ini, secara tidak langsung menjadi cermin dari tujuan mulia atau nilai-nilai yang ada sekolah Saya anut dan yakini selama ini. Untuk itulah penting untuk menciptakan lingkungan positif agar terbentuk suatu budaya positif. Suatu lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan murid kesempatan dan kebebasan untuk berproses, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi, sehingga mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran. selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi. Dan salah satu tanggung jawab kita sebagai pendidik adalah menghilangkan atau ‘mencabut’ gangguan-gangguan yang menghalangi proses pengembangan potensi murid.
Kemudian saya dan teman-teman CGP belajar eksplorasi konsep budaya positif secara mandiri, memahami materi dan memjawab pertanyaan refleksi diri serta berdiskusi pada laman LMS. materi yang disuguhkan cukup banyak. Materinya tentang Disiplin Positif dan Nilai – nilai Kebajikan Universal, Teori Motivasi, Hukuman, dan Penghargaan, Restitusi, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi- Lima Posisi Kontrol, Restitusi -Segitiga Restitusi.
Dalam eksplorasi konsep ini saya diajak Kembali untuk refleksi pada diri sendiri dengan bertanya ke diri kita sendiri, bagaimana kita berperilaku? Mengapa kita melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukan sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan yang lain? Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan, terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita mau. Dari mengekplorasi konsep ini saya mendapat banyak ilmu dan pemahaman baru yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan sehari – hari, tidak saja di sekolah namun juga di rumah dan di masyarakat.
Hari sabtu tanggal 18 Mei 2024 saya dan rekan-rekan CGP angkatan 10 dari lampung tengah menghadiri lokakarya ke-1 tepatnya di SMKN 1 Seputih Agung, lampung Tengah. disini kami melakukan banyak kegiatan yang menyenangkan, salah satu kegiatannya adalah belajar pentingnya komunitas praktisi.
Hari tanggal 21-22 Mei 2024 saya dan rekan-rekan hebat lainnya bertemu dalam ruang kolaborasi. Setelah pembahasan dari fasilitator ibu Andrianti dan mengulas pemahaman tentang budaya positif, kami dibagi kelompok menjadi 3 kelompok. disini masing-masing kelompok berdiskusi tentang 4 kasus yang harus dianalisis. berdiskusi sangat menyenangkan karena bisa saling bertukar ide diselingi dengan candaan teman 1 kelompok sehingga kami merasa enjoy dan juga mendapat manfaat menambah wawasan. saat presentasipun tidak ada yang merasa hebat, semua belajar bersama-sama, manambal kekurangan dan menambah ilmu. dan juga dikuatkan oleh fasilitator. saya banyak belajar dalam setiap kegiatan kolaborasi karena saya seorang yang kurang pintar mengemukakan pendapat. saya belajar cara mengemukakan pendapat, belajar berbicara didepan umum walaupun rasa gugup itu ada. saya berusaha bisa berbicara didepan umum seperti rekan-rekan hebat lainnya.
2. Feelings (Perasaan):
Saya merasa senang selama mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Posistif. Saya mempelajari bagaimana menyelesaikan masalah yang terjadi di sekolah dengan pendekatan baru dengan menerapkan segitiga restitusi, dan mencoba menempatkan diri pada posisi kontrol manajer. Diskusi dengan rekan – rekan membuat pemahaman saya lebih mendalam tentang budaya positif. Saya juga merasa senang mencoba membuat keyakinan kelas bersama murid-murid kelas 8F, tentunya masih banyak kekurangan karena terusterang ini hal baru buat saya dan murid-murid, akan tetapi hal ini akan terus berlanjut karena saya merasa ini efektif untuk dilakukan, mereka (murid) mengeluarkan pendapat untuk membuat peraturan dan mempertanggung jawabkan hal yang mereka yakini.
3. Findings ( Pembelajaran):
Pembelajaran yang dapat saya petik dari kegiatan pada modul 1.4 budaya positif ini adalah Posisi terbaik sebagai guru adalah posisi kontrol sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi sebagai solusi ketika ada murid yang melanggar keyakinan kelas. Karena restitusi menciptakan kondisi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka dan bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat (Gossen;2004).
Dalam menciptakan budaya positif di sekolah sangat dituntut kerja sama dan kekompakan serta keselarasan dari semua pihak di sekolah. Budaya Positif tidak bisa diciptakan oleh satu orang saja. Harus ada kerjasama dari semua pihak di sekolah termasuk orang tua siswa dan masyarakat. Kerja sama yang baik dari semua unsur akan memudahkan terciptanya budaya positif dan juga terbentuknya Profil Pelajar Pancasila di kalangan murid. Semoga warga sekolah saya bisa lebih meningkatkan terciptanya budaya positif ini di sekolah. Budaya positif tidak hanya untuk siswa saja, tetapi semua warga sekolah.
Perlu sebuah konsistensi untuk menciptakan budaya positif. Untuk itu diperlukan tekat kuat kita sebagai pendidik untuk menghasilkan generasi yang berkarakter mulia.
4. Future ( Penerapan):
Saya akan menerapkan ilmu- ilmu yang saya pelajari pada modul 1.4 tentang budaya positif diantaranya
- Saya akan membuat kesepakatan kelas dan mendalaminya Bersama warga sekolah, sehingga nilai – nilai kebajikan yang telah disepakati akan tertanam pada seluruh warga sekolah
- Lebih bersabar dalam menangani masalah sehari – hari. Dalam menyelesaikan masalah – masalah yang terjadi saya akan lebih memilih posisi kontrol manajer dan menerapkan segitiga restitusi.
- Mengimbaskan ilmu yang saya peroleh serta mengajak rekan sejawat untuk mencoba dan merasakan manfaatnya (berkolaborasi). Harapan saya budaya positif dapat terwujud di sekolah tempat saya mengajar.
- Konsisten dalam penerapan budaya positif dalam kehidupan sehari – hari.
