Jurnal Refleksi Dwi Minggu - Modul 3.1

 Pengambilan Keputusan Berbasis 

Nilai – Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin




Saya Rahmi Rauf, Calon Guru Penggerak Angkatan 10, SMP Negeri 5 Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Pada kesempatan ini saya akan menulis jurnal refleksi dwi mingguan pada modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai – nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Jurnal ini saya buat untuk melakukan refleksi diri setelah mempelajari modul 3.1.Saya menggunakan model 6: Reporting, responding, relating, reasoning, reconstructing (5R).

Model refleksi 5M diadaptasi dari model 5R (Bain, dkk, 2002, dalam Ryan & Ryan, 2013). 5M terdiri dari langkah-langkah berikut: 1. Mendeskripsikan (Reporting): menceritakan ulang peristiwa yang terjadi 2. Merespon (Responding): menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, ataupun tindakan yang diambil saat peristiwa berlangsung. 3. Mengaitkan (Relating): menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengetahuan, keterampilan, keyakinan atau informasi lain yang dimiliki. 4. Menganalisis (Reasoning): menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, lalu mengambil beberapa perspektif lain, misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupa, untuk mendukung analisis tersebut. 5. Merancang ulang (Reconstructing): menuliskan rencana alternatif jika menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

1. Mendeskripsikan (Reporting)

29 Juli 2024 kami memulai kembali aktifitas belajar pada program guru penggerak angkatan 10. Aktifitas dimulai dengan pre-test paket modul 3. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan mulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi, demontrasi kontekstual, elaborasi pemahaman, koneksi antar materi dan aksi nyata pada LMS.

Pada eksplorasi konsep kami mempelajari materi tentang pengambilan keputusan berbasis nilai – nilai kebajikan sebagai pemimpin. Kegiatan dilakukan dengan mempelajari materi secara mandiri dan melakukan diskusi asinkronius pada LMS. Ada pun materi yang saya pelajari antara lain: Pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:
  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya.
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (bertanggung jawab) kepada orang lain
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

PRINSIP BERPIKIR PENYELESAIAN DILEMA ETIKA
  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Suatu pengambilan keputusan, walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta berpihak pada murid.

PENGAMBILAN PENGUJIAN KEPUTUSAN
Terdapat 9 langkah yang harus dilakukan untuk pengambilan keputusan dan pengujian
keputusan
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
3. mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
4. pengujian benar dan salah
  • uji legal adalah apakah ada pelanggaran hukum dalam situasi tersebut
  • uji regulasi atau standar profesional adakah pelanggaran kode etik atau peraturan etik di dalam situasi ini
  • uji intuisi yaitu mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dalam situasi ini
  • uji publikasi yaitu apakah yang akan kita rasakan jika keputusan ini di publikasikan
  • uji panutan atau idola yaitu kita membayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kita idolakan

Dari prinsip pengujian ada yang memiliki korelasi dalam prinsip pengambilan
keputusan yaitu :

uji intuisi berhubungan erat dengan berpikir berbasis peraturan yang tidakbertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam

uji publikasi sebaliknya berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir yang mementingkan hasil akhir
uji panutan atau idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta kita untuk meletakkan diri kita pada posisi orang lain

5. Pengujian paradigma benar lawan salah Paradigma benar dan salah terdiri dari
  1. Individu lawan kelompok
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan
  3. Kebenaran lawan kesetiaan
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang

6. Melakukan prinsip resolusi Yaitu menggunakan 3 prinsip penyelesaian dilema mana yang harus kita pakai apakah berpikir berbasis hasil ataukah, berpikir berbasis peraturan, ataukah berpikir berbasis rasa peduli.
7. Investigasi opsi trilema dalam pengambilan keputusan seringkali ada dua pilihan yang sudah kita pilih namun terkadang kita juga memerlukan opsi lain di luar dua pilihan tersebut kita bertanya pada diri kita apakah ada cara yang berkompromi dalam situasi ini sehingga memunculkan pilihan baru itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema
8. Buat keputusan
9. Melihat lagi apakah keputusan itu sudah benar dan merefleksikannya

Selain mempelajari materi secara mandiri kami juga belajar menganalisa kasus – kasus bujukan moral dan dilema etika dan mengidentifikasi prinsip – prinsip etika yang berdasarkan pada nilai – nilai kebajikan universal. Kami mencoba menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada kasus yang penah kami alami. Kemudian mendiskusikannya pada LMS

Kegiatan pada ruang kolaborasi dilaksanakan pada tanggal 1 -2 Agustus 2024. Pada ruang kolaborasi kami bertemu melalui tatap muka maya. Bersama teman CGP melaksanakan diskusi tentang pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika dan bujukan moral. Pada sesi ruang kolaborasi – kerja kelompok kami berdiskusi secara berkelompok. Saya tergabung pada kelompok dua Diskusi kami membahas tentang kasus – kasus dilema etika yang pernah kami alami. Kami memilih satu kasus untuk dianalisa bersama. Kami pun melakukan analisa dengan sembilan langkah yang harus dilakukan untuk pengambilan keputusan dan pengujian keputusan. Setelah mendiskusikan kasus tersebut kami siap untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok pada ruang kolaborasi – forum diskusi.


Pada kegiatan ruang kolaborasi- forum diskusi kami mendapat kritik, saran dan masukan baik dari Ibu Andrianti selaku fasilitator maupun rekan – rekan calon guru penggerak.

Demontrasi kontekstual, dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2024 dengan mewawancarai kepala sekolah dari sekolah asal CGP SMP Negeri 5 Terbanggi Besar, bapak Ruslan Abdul Gani, S.Pd., M.M.Pd. Kepala sekolah SMK Prima Plus Seputih Mataram, bapak Tukijan, S.Pd.Ina dan ibu Astuti Mutoharoh, S.Pd kepala sekolah SMPN 2 Way Pengubuan Lampung Tengah, untuk menganalisa dan merefleksi langkah pengambilan keputusan.


Gambar 1. Wawancara dengan bapak Ruslan Abdul Gani, S.Pd., M.M.Pd.
Kepala UPTD Satuan Pendidikan SMP Negeri 5 Terbanggi Besar


Gambar 2. Wawancara dengan Bapak Tukijan, S.Pd.Ina
Kepala SMK Prima Plus Seputih Mataram


Gambar 3. Wawancara dengan Ibu Astuti Mutoharoh, S.Pd
Kepala  UPTD Satuan Pendidikan SMPN 2 Way Pengubuan.

Sesi Elaborasi Pemahaman 7 Agustus 2024 dan Koneksi antar materi bersama instruktur ibu Vivit Eka Damayanti


Gambar 4. Sesi Elaborasi Pemahaman

2. Merespon (Responding)

Dua minggu yang sangat luar biasa. Saya merasa beruntung mendapatkan kesempatan mempelajari modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai – nilai Kebajikan sebagai Pemimpin dengan rekan – rekan calon guru penggerak, instruktur dan fasilitator yang hebat. Diskusi tentang materi maupun studi kasus menambah wawasan saya tentang pengambilan keputusan. Saya pun berkesempatan untuk belajar dari orang dekat di lingkungan saya yang berkaitan dengan pengambilan keputusan melalui kegiatan wawancara. Sungguh pengalaman yang luar biasa, karena belum pernah terpikirkan sebelumnya belajar bagaimana cara pemimpin mengambil keputusan. Ternyata banyak hal yang perlu mereka pertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Di mana pertimbangan – pertimbangan tersebut terkadang sangat membingungkan karena ada nilai – nilai kebenaran/ kebajikan yang saling bertentangan. Saya merasa sangat perlu memahami lebih dalam lagi keterampilan dalam pengambilan keputusan khususnya pada kasus – kasus dilema etika.

3. Mengaitkan (Relating):

Banyak sekali pembelajaran yang dapat saya ambil pada modul 3.1. Materi pada modulini berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari – hari, terutama dalam menjalankan tugas. Permasalahan  -permasalahan pasti akan datang dalam kehidupan kita. Hal tersebut tidak dapat kita hindari, meskipun kita sudah berusaha keras untuk itu meminimalisirnya. Keterampilan untuk membuat keputusan yang tepat sangat diperlukan.

Pada modul 3.1 ini kami mempelajari tentang 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah dalam pengambilan atau pengujian keputusan. Hal ini, memberikan pemahaman pada saya bagaimana cara kita menjadi pemimpin baik sebagai pemimpin pembelajaran di kelas atau pun sebagai pemimpin sekolah. Pengambilan keputusan berdasar nilai kebajikan yang diyakini, berpihak pada murid, bertanggungjawab sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang tepat. Hal ini selaras dengan kegiatan kita sebagai guru, di mana dalam melaksanakan tugas tersebut kita dihadapkan dengan situasi dan kondisi harus membuat keputusan atas masalah yang terjadi. Kita dituntut mampu membuat keputusan yang tepat dan bijak. Oleh karenanya kemampuan, keterampilan dan pemahaman bagaimana cara yang tepat dalam mengambil keputusan perlu dilatih agar terasah tajam.

4. Menganalisis (Reasoning)

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Lingkungan tersebut sangat dibutuhkan ketika murid – murid kita belajar. Dengan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman kita dapat memaksimalkan potensi – potensi yang ada pada murid.

Keputusan yang kita ambil sangat mempengaruhi pengajaran yang memerdekakan murid - murid kita. Hal ini sangat jelas, setiap murid unik dan memiliki kelebihannya masing - masing. Sehingga tugas kita adalah menuntun mereka sesuai kodratnya. Keputusan kita untuk memerdekakan murid merupakan proses untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Dengan demikian kita sadar benar akan pentingnya
pengambilan keputusan yang tepat dan bijak. Oleh karenanya untuk dapat pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, kita harus menganalisis kasus tersebut dengan langkah berikut :
  1. Mengidentifikasi kasus berdasarkan 4 paradigma dilema etika
  2. Menentukan 3 prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan, apakah dilema etika tersebut berbasis pada hasil akhir, berbasis pada peraturan dan berbasis rasa peduli.
  3. Menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan, mulai dari mengenali nilai-nilai yang bertentangan, siapa yang terlibat dalam situasi ini, mengumpulkan fakta, melakukan pengujian benar/salah (uji legal, regulasi, intuisi, publikasi, idola, paradigma benar lawan benar, prinsip resolusi, opsi trilema, buat keputusan dan refleksikan hasil keputusan.

5. Merancang ulang (Reconstructing):

Ke depan, saya akan menerapkan langkah - langkah pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan berpihak pada murid dengan berpedoman 4 pradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Selain itu saya juga akan senantiasa berpijak pada filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan Patrap Trilokanya (Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani), nilai dan peran guru penggerak yang dimiliki, pembelajaran berdiferensiasi serta sosial - emosional, proses coaching yang baik, seta kesadaran penuh atau mindfulness.

Terimakasih

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama