Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid
Saya Rahmi Rauf, Calon Guru Penggerak Angkatan 10, SMP Negeri 5 Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Pada kesempatan ini saya akan menulis jurnal refleksi dwi mingguan pada modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Saya menggunakan Model 2: Description, Examination and Articulation of Learning (DEAL)
Dalam kurun waktu dua minggu ini saya mempelajari dan mengerjakan tugas-tugas pada modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Berikut ini adalah urutan jadwal kegiatannya:
Mulai dari Diri & Eksplorasi Konsep : 26 Agustus 2024
Eksplorasi Konsep – Mandiri : 27 Agustus 2024
Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi : 28-29 Agustus 2024
Ruang Kolaborasi : 30 Agustus dan 2 September 2024
Demonstrasi Kontekstual : 3 - 4 September 2024
Elaborasi Pemahaman/Koneksi Antar Materi : 5 - 6 September 2024
Jurnal Refleksi Dwimingguan : 7 September 2024
Aksi Nyata : 9 - 20 September 2024
Post-test Paket Modul 3 : 10 Sepember 2024
Pendampingan Individu : 13 - 20 September 2024
Lokakarya 5 : 21 September 2024
Saya mempelajari tentang Student Agency, yaitu saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”. Agency dapat diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan-tindakan yang dibuatnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006) mengatakan, bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sengaja mempengaruhi fungsi dan keadaan hidup dirinya. Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi merupakan bagian dari struktur kausal. Orang-orang sebenarnya dapat mengatur diri sendiri, bersikap proaktif, meregulasi diri sendiri, dan merefleksikan diri. Mereka bukan hanya dapat menjadi penonton dari perilaku mereka sendiri, tetapi adalah kontributor untuk keadaan hidup mereka sendiri.
Untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam proses belajar, sebagai guru, kita harus mendorong dan mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid di kelas. Pilihan dan suara murid menjadi penting agar murid mempunyai rasa ‘memiliki’ proses pembelajaran mereka sendiri. Di sisi lain, melalui pilihan dan dengan rasa memiliki yang kuat, suara mereka kemudian dapat diwujudkan. Berikut ini adalah beberapa contoh dorongan dalam ketiga aspek tersebut:
Suara:
- Membangun budaya saling mendengarkan.
- Membangun kepercayaan diri murid agar mereka percaya bahwa setiap suara berharga dan layak didengar.
- Mengajak murid untuk mendiskusikan keyakinan kelas dan membuat kesepakatan kelas.
- Memberikan kesempatan murid untuk bertanya, memberikan pendapat, berdiskusi dalam berbagai kesempatan dan proses pembelajaran.
Pilihan:
- Memberikan kesempatan pada murid untuk memilih peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan/program.
- Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.
- Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan kegiatan.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk mempresentasikan hasil kerja/proyek sesuai dengan gaya , minat dan bakat mereka
- Memberikan kesempatan pada murid untuk menggali sumber-sumber belajar sesuai minat mereka.
Kepemilikan:
- Memberikan murid kesempatan untuk memilih beberapa kegiatan yang mereka lakukan (misalnya memilih topik untuk dilaporkan).
- Memberikan kesempatan murid berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum (misalnya, memutuskan apa yang ingin mereka pelajari).
- Memberikan murid kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam kelas.
- Memberikan murid kesempatan untuk menilai diri sendiri dan terlibat dalam proses penilaian (misalnya, melibatkan murid dalam mendiskusikan kriteria rubrik proyek yang baik).
Terkait dengan modul sebelumnya, saya menyadari bahwa di sekolah banyak aset yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan 7 karakteristik lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, diantaranya adalah aset manusia, lingkungan/ alam, fisik, sosial, agama/ budaya, politik dan finansial. Ketujuh aset ini dapat jika dikelola dengan maksimal akan menciptakan Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Lingkungan di mana guru, sekolah, orangtua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal. Yaitu lingkungan yang memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah:
- Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif.
- Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana
- Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
- Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya
- Lingkungan yang membuka wawasan murid
- Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri
- Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh
Sebelum mempelajari modul ini saya melaksanakan suatu program belum terencana dengan baik, dan masih dengan cara menggali kekurangan yang perlu dipenuhi.
Setelah mempelajari modul ini sampai pada bagian akhir, ternyata suatu program dapat direncanakan dengan lebih teliti, terstruktur, dan kolaboratif dapat menggunakan model BAGJA, dan memanfaatkan aset yang ada sebagai potensi positif yang berkelanjutan. Juga mendorong kepemimpinan murid yang memang menjadi target/ sasaran utama penyelenggaraan pembelajaran dan saya ingin mempraktikkannya di sekolah.
Dalam kurun waktu dua minggu ini saya mempelajari dan mengerjakan tugas-tugas pada modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Berikut ini adalah urutan jadwal kegiatannya:
Mulai dari Diri & Eksplorasi Konsep : 26 Agustus 2024
Eksplorasi Konsep – Mandiri : 27 Agustus 2024
Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi : 28-29 Agustus 2024
Ruang Kolaborasi : 30 Agustus dan 2 September 2024
Demonstrasi Kontekstual : 3 - 4 September 2024
Elaborasi Pemahaman/Koneksi Antar Materi : 5 - 6 September 2024
Jurnal Refleksi Dwimingguan : 7 September 2024
Aksi Nyata : 9 - 20 September 2024
Post-test Paket Modul 3 : 10 Sepember 2024
Pendampingan Individu : 13 - 20 September 2024
Lokakarya 5 : 21 September 2024
Saya mempelajari tentang Student Agency, yaitu saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”. Agency dapat diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan-tindakan yang dibuatnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006) mengatakan, bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sengaja mempengaruhi fungsi dan keadaan hidup dirinya. Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi merupakan bagian dari struktur kausal. Orang-orang sebenarnya dapat mengatur diri sendiri, bersikap proaktif, meregulasi diri sendiri, dan merefleksikan diri. Mereka bukan hanya dapat menjadi penonton dari perilaku mereka sendiri, tetapi adalah kontributor untuk keadaan hidup mereka sendiri.
Untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam proses belajar, sebagai guru, kita harus mendorong dan mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid di kelas. Pilihan dan suara murid menjadi penting agar murid mempunyai rasa ‘memiliki’ proses pembelajaran mereka sendiri. Di sisi lain, melalui pilihan dan dengan rasa memiliki yang kuat, suara mereka kemudian dapat diwujudkan. Berikut ini adalah beberapa contoh dorongan dalam ketiga aspek tersebut:
Suara:
- Membangun budaya saling mendengarkan.
- Membangun kepercayaan diri murid agar mereka percaya bahwa setiap suara berharga dan layak didengar.
- Mengajak murid untuk mendiskusikan keyakinan kelas dan membuat kesepakatan kelas.
- Memberikan kesempatan murid untuk bertanya, memberikan pendapat, berdiskusi dalam berbagai kesempatan dan proses pembelajaran.
Pilihan:
- Memberikan kesempatan pada murid untuk memilih peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan/program.
- Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.
- Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan kegiatan.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk mempresentasikan hasil kerja/proyek sesuai dengan gaya , minat dan bakat mereka
- Memberikan kesempatan pada murid untuk menggali sumber-sumber belajar sesuai minat mereka.
Kepemilikan:
- Memberikan murid kesempatan untuk memilih beberapa kegiatan yang mereka lakukan (misalnya memilih topik untuk dilaporkan).
- Memberikan kesempatan murid berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum (misalnya, memutuskan apa yang ingin mereka pelajari).
- Memberikan murid kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam kelas.
- Memberikan murid kesempatan untuk menilai diri sendiri dan terlibat dalam proses penilaian (misalnya, melibatkan murid dalam mendiskusikan kriteria rubrik proyek yang baik).
Terkait dengan modul sebelumnya, saya menyadari bahwa di sekolah banyak aset yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan 7 karakteristik lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, diantaranya adalah aset manusia, lingkungan/ alam, fisik, sosial, agama/ budaya, politik dan finansial. Ketujuh aset ini dapat jika dikelola dengan maksimal akan menciptakan Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Lingkungan di mana guru, sekolah, orangtua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal. Yaitu lingkungan yang memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah:
- Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif.
- Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana
- Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
- Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya
- Lingkungan yang membuka wawasan murid
- Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri
- Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh
Sebelum mempelajari modul ini saya melaksanakan suatu program belum terencana dengan baik, dan masih dengan cara menggali kekurangan yang perlu dipenuhi.
Setelah mempelajari modul ini sampai pada bagian akhir, ternyata suatu program dapat direncanakan dengan lebih teliti, terstruktur, dan kolaboratif dapat menggunakan model BAGJA, dan memanfaatkan aset yang ada sebagai potensi positif yang berkelanjutan. Juga mendorong kepemimpinan murid yang memang menjadi target/ sasaran utama penyelenggaraan pembelajaran dan saya ingin mempraktikkannya di sekolah.
