Jurnal Refleksi Dwi Mingguan - Modul 2.2

 Pembelajaran Sosial dan Emosional



Sabtu, 6 Juli 2024

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Saya Rahmi Rauf, Calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Pada kesempatan ini saya akan menulis jurnal refleksi dwi mingguan pada modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional. Jurnal ini saya buat untuk melakukan refleksi diri setelah mempelajari modul 2.2. Saya menggunakan model 1 yaitu model 4F yaitu : Fact (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan) dalam penulis jurnal refleksi.

Model 1 : 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):

  1. Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?
  2. Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut.
  3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?
  4. Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?

Facts (Peristiwa)

Saya mempelajari materi modul 2.2 (Pembelajaran Sosial dan Emosional) melalui beberapa tahap

  1. Mulai dari diri dan eksplorasi konsep secara mandiri pada LMS Pada hari Senin, 24 Juni 2024
  2. Eksplorsi konsep – Forum diskusi pada hari Selasa dan Rabu, 25 dan 26 Juni 2024
  3. Ruang kolaborasi pada hari Kamis dan Jumat, 27 dan 28 Juni 2024
  4. Demonstrasi Kontekstual pada tangga 1 dan 2 Juli 2024
  5. Elaborasi pemahaman / koneksi antar materi 3 dan 4 Juli 2024


Kegiatan mulai dari pendahuluan, dimana kami menerima surat dari Rusiati Yo & Jilly Pingkan Kaunang, selaku instruktur. Surat tersebut berisi tentang tujuan modul 2 yaitu menguatkan paradigma dan praktek pembelajaran yang berpihak pada murid. Kemudian kami juga disuguhi pertanyaan mengapa PSE semakin mendesak untuk kita terapkan dan praktikkan? 

Kami diajak untuk merefleksi dunia Pendidikan. Pentingnya perkembangan murid secara holistik;  bukan hanya intelektual, tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Meningkatnya jumlah kasus perundungan, tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pernikahan usia dini dan kehamilan di bawah usia, murid  yang memiliki motivasi belajar  rendah hingga putus sekolah, murid dengan gangguan emosional seperti stres, kecemasan, depresi, bahkan kasus bunuh diri pada usia remaja, menunjukkan masih lemahnya perkembangan sosial dan emosional para murid kita. Maka, pembelajaran yang dapat menumbuhkan kompetensi sosial dan  emosional murid adalah sebuah urgensi dalam proses pendidikan kita. 

Urgensi PSE untuk mendorong tumbuh kembang murid secara holistik. Pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Dalam modul ini, kita akan mengeksplorasi PSE melalui empat indikator yaitu, pengajaran eksplisit,  integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) melalui keteladanan, proses belajar, dan kolaborasi dengan seluruh komunitas sekolah.

Alur pertama alur mulai dari diri, kami diajak untuk refleksi dengan menjawab beberapa pertanyaan di LMS. Pertanyaan tersebut antara lain “Selama menjadi pendidik, Anda tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu Anda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya”. Setelah menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan saya juga menuliskan harapan untuk diri sendiri dan murid – murid saya.  

Pada alur kedua yaitu eksplorasi konsep, kami belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam LMS (Learning Management System). Kami diajak untuk menganalisa lima kasus.  Kemudian kami berdiskusi secara asinkronius pada LMS (Learning Management System). Diskusi ini bertujuan untuk mengembangkan pemahaman bersama penerapan kompetensi sosial dan emosional dalam suatu situasi. 

Pada alur ketiga (ruang kolaborasi), kali ditemani Ibu Andrianti selaku  fasilitator.  Ruang kolaborasi sesi pertama dimulai dengan refleksi materi pada eksplorasi konsep sejauh mana pemahaman calon guru penggrak pada materi tentang pembelajaran sosial dan emosional. Kemudian kesepakatan kelas dalam pembelajaran dan diskusi kelompok berdasarkan kelompok yang telah dibagi yaitu mendiskusikan bagaimana pengimplementasian pembelajaran sosial dan emosional di sekolah. Saya bergabung dengan kelompok 2 yaitu Kelompok SD kelas atas dan SMP. Kami mendapatkan tugas untuk membahas tentang Ide Implementasi/penerapan pembelajaran 5 kompetensi sosial-emosional dan penguatan pembelajaran 5 kompetensi sosial-emosional untuk PTK. Diskusi dalam kelompok berlangsung dengan seru dan lancar. Kami mampu menyelesaikan tugas dengan bekerja sama. Pada ruang kolaborasi sesi kedua, kami mempresentasi hasil diskusi kelompok masing – masing kemudian mendiskusikannya. Kami berbagi pengalaman dalam menerapkan pembelajaran sosial dan emosional. Pengalaman menarik ketika ternyata praktik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) sangat berguna dalam berbagai kehidupan kita. Penerapan Teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) dapat kita terapkan pada anak – anak. Teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) dapat membantu kita untuk rileks, mengurangi stress dan membantu kita untuk siap kembali melanjutkan kegiatan dengan penuh semangat. 


Gambar 1. Penjalasan oleh ibu Fasilitator (Ibu Andrianti)


Gambar 2  Diskusi Kelompok

Gambar 3 Ruang Kolaborasi Presentasi dan Diskusi 

Pada alur keempat (demontrasi kontekstual), kami diminta untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sosial dan emosional. Di sini Saya belajar untuk merencanakan sebuah kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional di dalamnya. Namun di sini saya masih harus banyak belajar. Walaupun pada eksplorasi konsep telah disediakan banyak sekali contoh rencana pembelajaran sosial dan emosional yang dapat saya ATM (Amati Tiru Modifikasi), namun saya perlu menyesuaikan dengan keadaan di sekolah saya. Sebenarnya tanpa disadari sebetulnya sebagai pendidik, saya telah menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran.  

Pada alur kelima (eloborasi pemahaman) kami menapatkan penguatan dari instruktur. tentang materi pembelajaran sosial dan emosional. 

Pada alur yang keenam (koneksi antar materi) kami mengaitkan materi pembelajaran sosial dan emosional dengan materi yang telah didapatkan pada modul sebelumnya. 

Alur terakhir dari alur merdeka adalah aksi nyata.

Perasaan (Feelings):

“Sebagai seorang pendidik, jadilah seperti air. Teguh pendiriannya namun juga siap untuk menyesuaikan diri dalam menjalani proses belajar” 

(Itje Chodidjah)

Saya merasa senang selama mempelajari modul 2.2 (Pembelajaran Sosial dan Emosional). 

Sebelum mempelajari modul ini saya berpikir bahwa kompetensi sosial dan emosional akan tumbuh pada murid seiring dengan tingkat kedewasaan pada diri anak, Namun ternyata kompetensi tersebut harus dilatih. 


Saya menyadari bahwa sesungguhnya saya telah menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini sebelum mempelajari modul ini.  Saya berempati kepada murid-murid saya dan berusaha menuntun mereka dengan sepenuh hati. Menurut saya apa yang saya terapkan tentang pembelajaran sosial dan emosional masih jauh dari sempurna, untuk itu saya belajar dan secara konsisten menerapkan dalam kehidupan sehari -hari. Diskusi dengan rekan – rekan membuat pemahaman saya lebih mendalam tentang pembelajaran sosial dan emosional


Pembelajaran (Findings):

Pembelajaran yang didapatkan dalam modul ini banyak sekali diantaranya

  • Pemahaman tentang pembelajaran sosial dan emosional yang penting untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. 
  • Proses pembelajaran kolaborasi memungkinkan murid, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosionalnya 
  • Lima kompetensi dalam pembelajaran sosial dan emosional diantaranya kesadaran sosial yaitu kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri sendiri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan, manajemen diri yaitu kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi, kesadaran sosial yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, keterampilan berelasi yaitu membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yaitu kemampuan mengambil pilihan-pilihan yang membangun berdasarkan kepedulian, dan perilaku untuk mencapai kesejahteraan psikologis atau well being.
  • Lima kompetensi sosial dan emosional ini berhubungan erat dengan enam dimensi profil pelajar Pancasila, yang merupakan nilai kebajikan yang menjadi tujuan dari kurikulum Pendidikan.
  • Lima kompetensi sosial dan emosional ini diharapkan dapat menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsive, proaktif, mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, sosial budaya, dan humaniora semuanya selaras dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi dalanm satandar nasional Pendidikan.
  • Dasar penguatan dari 5 KSE adalah mindfulness (kesadaran penuh), kesadaran penuh ini di mana kita mengarahkan sepenuhnya perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan.
  • Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran penuh adalah Teknik STOP, yaitu berhenti sejenak, ambil nafas dalam, amati sensati pada tubuh, perasaan, pikiran, dan lingkungan, dan selessai kemudian lanjutkan kembali aktivitas yang akan dilakukan.
  • Kompetensi 5 KSE berdasarkan kesadaran penuh akan menciptakan kesejahteraan psikologis atau yang disebut dengan well-being.
  • Implementasi pembelajaran sosial dan emosional dapat dilakukan dengan pembelajaran secara eksplisit dan terintegrasi dalam kurikulum akademik.
  • Pembelajaran sosial dan emosional dapat dilaksanakan dengan baik jika dilaksanakan secara kolaboratif yaitu di dalam kelas, sekolah, dan juga dalam keluarga serta komunitas.
  • Pembelajaran sosial dan emosional pada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diperkuat dengan menjadi teladan, belajar, dam berkolaborasi.


Penerapan (Future):

Setelah pembelajaran pada modul ini penerapan dan perubahan yang ingin saya lakukan adalah

  • Saya akan senantiasa berusaha menciptakan  lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Saya berharap agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal dengan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
  • Saya akan berusaha menerapkan pembelajaran sosial dan emosional. Saya berharap saya dapat mengembangkan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
  • Saya akan mempraktikkan konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE)
  • Saya akan berkolaborasi dengan teman sejawat untuk melaksanakan Pembelajaran sosial dan emosional.
  • Saya akan berusaha mengimplementasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh (mindfulness) melalui pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, 
  • Saya akan berusaha mengimplementasikan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) di sekolah melalui menjadi teladan, belajar, dam berkolaborasi.
Terimakasih

Salam Guru Penggerak

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama