Jurnal Refleksi Dwi Mingguan - Modul 2.3

 Coaching Untuk Supervisi Akademik


Saya Rahmi Rauf, Calon Guru Penggerak Angkatan 10, SMP Negeri 5 Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Pada kesempatan ini saya akan menulis jurnal refleksi dwi mingguan pada modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik. Jurnal ini saya buat untuk melakukan refleksi diri setelah mempelajari modul 2.3. Saya menggunakan model 3: Six

Thinking Hats (Teknik 6 Topi)

Model Six Thinking Hats diperkenalkan oleh Edward de Bono pada tahun 1985. Model ini melatih kita melihat satu topik dari berbagai sudut pandang, yang disimbolkan dengan enam warna topi. Setiap topi mewakili cara berpikir yang berbeda; beberapa di antaranya terkadang mendominasi cara kita berpikir. Karena itu, dengan semakin sering melatih keenam “topi”, kita akan dapat mengambil refleksi yang lebih mendalam. Keenam topi tersebut berikut penggunaannya dalam jurnal refleksi adalah:

Topi putih: tuliskan informasi sebanyak-banyaknya terkait pengalaman yang terjadi. Informasi ini harus berupa fakta; bukan opini.

Topi merah: gambarkan perasaan Anda terkait dengan topik yang sedang dibahas, misalnya perasaan saat mempelajari materi baru atau saat menjalankan diskusi kelompok.

Topi kuning: tuliskan hal-hal positif yang terkait dengan topik tersebut.

 Topi hitam: tuliskan kendala, hambatan, atau risiko dari tindakan/peristiwa yang sedang dibahas.

Topi hijau: jabarkan ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa tersebut.

Topi biru: tarik kesimpulan dari peristiwa yang terjadi, atau ambil keputusan setelah mempertimbangkan kelima sudut pandang lainnya. Bandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Topi putih Facts : Informasi terkait pengalaman yang terjadi, informasi berupa  fakta, bukan opini.

Pada modul 2.3 ini saya dan rekan – rekan calon guru penggerak angkatan 10 mempelajari tentang coaching untuk supervisi akademik. Seperti biasa kami mempelajari modul dengan alur MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Demontrasi kontekstual, Elaborasi konsep, Koneksi antar materi dan Aksi nyata). Berdasarkan jadwal yang telah disusun kami mulai mempelajari mudol 2.3 pada tanggal 8 Juli 2024.

Kegiatan di mulai dari dengan pendahuluan, dimana saya mendapatkan surat dari Instruktur, kemudian Kegiatan mulai dari diri dimulai dengan merefleksikan pengalaman dan perasaan saat disupervisi oleh pimpinan. Saya pun menceritakan pengalaman saya Ketika disupervisi oleh pimpinan. Saya merasa sedikit khawatir, gugup dan juga senang  dengan adanya supervisi membantu saya meningkatkan kinerja saya, membantu kekurangan saya. Saran dan kritik membangun terkait pengolahan kelas, penyampaian materi, dan kegiatan yang saya dan murid saya lakukan selama pembelajaran dikelas.

Kegiatan dilanjutkan dengan eksplorasi konsep dan forum diskusi eksplorasi konsep melalui LMS (Learning Management System). Di sini saya mempelajari modul secara mandiri dan mendiskusikanya dengan rekan calon guru penggerak lainnya. Pada modul ini saya belajar tentang

2.1 Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan

2.2. Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching

2.3. Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

2.4 Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching.

Kegiatan berikutnya adalah ruang kolaborasi. Kegiatan dilaksanakan pada ruang virtual. Kami berdiskusi tentang materi, mendengarkan penjelasan dari Ibu Andrianti selaku fasilitator dan kami juga berlatih praktik coaching. Dalam berlatih coaching kami terbagi dalam kelompok – kelompok kecil yang terdiri dari 2 orang calon guru penggerak, pada sesi latihan ini kami secara bergantian peran menjadi coach dan coachee. Selain itu kami juga menganalisa dan melakukan refleksi diri apa yang sudah berjalan baik, apa yang masih perlu diperbaiki/ditingkatkan, apa yang lakukan untuk tetap dalam kondisi presence (kehadiran penuh) sebelum dan saat melakukan coaching dan apa yang akan lakukan untuk memperbaiki/meningkatkannya.


Gambar Rukol 1. Penjelasan dari ibu Andrianti selaku Fasilitator

Gambar Rukol 2. Sesi Latihan Ruang kolaborasi

Pengalaman paling mengesankan adalah saat saya mengerjakan tugas demonstrasi kontekstual, disini saya banyak belajar, baik itu dari video maupun dari rekan sejawat disekolah saya. Saya dibantu oleh rekan sejawat mempraktekkan teknik coaching sebagai supervisor. Pengalaman ini sungguh luar biasa untuk saya, merubah paradigma saya tentang makna coaching. Sebelumnya saya menganggap Coach adalah saya harus memberikan/ menyumbangkan ide dari masalah yang dihadapi coachee, yang saya pelajari ini adalah bagaimana kita bisa menuntun coachee menemukan solusinya sendiri atas masalah yang dia hadapi, dan memaksimalkan potensi yang dia miliki (coachee miliki).

Gambar 3. Sesi latihan menjadi suprvisor

Topi merah Feelings : Gambar perasaan terkait dengan topik yang sedang dibahas

Saya sangat antusias mempelajari modul ini. Saya merasa senang dan beruntung dapat belajar tentang materi pada modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik. Menurut saya materi pada modul 2.3 sangat bermanfaat baik untuk supervisi akademik maupun dalam keseharian kita sebagai guru. Teknik coaching ini mengajarkan prinsip – prinsip berkomunikasi yang menyenangkan walaupun dalam suasana yang serius. Contoh dalam supervisi akademik dan dalam penyelesaian masalah.

Topi kuning Benefits : Hal-hal positif yang terkait dengan topik tersebut.

Hal – hal positif yang saya temukan setelah saya mempelajari modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik ini antara lain saya mendapatkan ilmu baru yaitu tentang coaching,saya mengerti perbedaan coaching, mentoring, konsuting, koseling, fasilitasi, dan training. Paradigma berpikir coaching terdiri dari fokus pada coachee/ rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru dan masa depan. Prinsip coaching yang meliputi kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Kompetensi inti coaching meliputi kehadiran penuh/ Presence, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan berbasis coaching dengan Alur TIRTA : Percakapan untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi.

Hal yang paling menantang bagi saya adalah berlatih menerapkan teknik coaching. Saya banyak belajar dari video rekan CGP angkatan sebelumnya, saya juga banyak konsultasi dengan rekan sejawat disekolah tentang teknik coaching ini. Dengan pengalaman itu menginspirasi saya untuk tetap terus belajar dan berlatih. Materi ini sangat bermanfaat bagi saya untuk meningkatkan kompetensi saya baik sebagai guru maupun dalam kehidupan sehari – hari di tengah – tengah masyarakat. Melalui komunikasi dengan teknik coaching, kita dapat meningkatkan hubungan baik dengan sesama.

Topi hitam Cautions : kendala, hambatan, atau risiko dari tindakan/peristiwa yang sedang dibahas.

Pada saat mempelajari materi pada modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik saya menemui beberapa kendala. Kendala itu diantara adalah saya perlu beberapa kali mengulang, membaca dan memutar video untuk memahami materi, karena materi ini baru pertama kali saya pelajari. Kemudian saat berlatih percakapan coaching saya juga mengalami kesulitan dalam menerapkan apa yang telah saya pelajari saat mengamati video contoh coaching pada LMS. Saya perlu berlatih dan berlatih kembali. Saya juga perlu menjalin kedekatan dengan coachee saya.

Topi biru Process : Kesimpulan dari peristiwa yang terjadi, atau ambil keputusan setelah mempertimbangkan kelima sudut pandang lainnya. Bandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dari kelima sudut pandang yang telah saya paparkan tadi, saya menarik kesimpulan bahwa pemahaman konsep dan keterampilan coaching ini sangat bermanfaat dan sesuai dengan tujuan modul 2.3 Coaching untuk Supervise Akademik. Adapun tujuan modul 2.3 adalah, secara umum, capaian modul ini adalah peserta mampu:

  1. Memiliki paradigma berpikir coaching dalam berkomunikasi dalam rangka mengembangkan kompetensi rekan sejawat;
  2. Menerapkan praktik komunikasi memberdayakan dengan menggunakan paradigma berpikir dan prinsip coaching;
  3. Melakukan percakapan berbasis coaching dalam komunitas sekolahnya untuk mengembangkan kompetensi rekan sejawat

Pada sesi ini saya berkesempatan untuk berlatih membangun komunikasi yang empati dan memberdayakan sebagai pemimpin pembelajaran. Sehingga saya berharap nantinya saya dapat membuat perubahan strategi yang mampu mengerakkan komunitas sekolah. Perubahan strategis yang sejalan semangat Merdeka Belajar untuk meningkatkan kualitas kurikulum (standar isi-standar proses-standar penilaian) yang bermakna dan kualitas sumber daya guru dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid pada Satuan Pendidikan di sekolah saya SMP Negeri 5 Terbanggi Besar

 Demikianlah hasil refleksi saya, semoga bermanfaat

Wasalamualaikum Warah matullahi wabarakatuh.


Salam Bahagia.

Terimakasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama