TUGAS MANDIRI - STUDI KASUS

 EKSPLORASI KONSEP - MODUL 3.1

TUGAS MANDIRI 

Tujuan Pembelajaran Khusus

  • CGP dapat menjelaskan  pentingnya konsep pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin dalam sekolah sebagai institusi moral.
  • CGP dapat menjelaskan pentingnya  pengambilan keputusan seorang pemimpin yang berdasarkan 3 unsur yaitu berpihak pada murid, bertanggung jawab, serta berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal.
  • CGP bersikap reflektif, kritis, dan terbuka dalam menganalisis nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan dilema etika.
Berikan tanggapan Anda terhadap studi kasus di bawah ini, pendekatan atau prinsip apa yang menjadi landasan berpikir Anda dan mengapa? Tuliskan jawaban Anda pada selembar kertas.

Studi Kasus:

Pak Seto adalah Kepala Sekolah sebuah sekolah dasar. Ia memiliki 2 guru kelas V yang berbeda cara mengajarnya. Ibu Tati guru kelas VA dan Ibu Sri guru kelas VB. Ibu Tati terkenal sebagai guru ‘galak’, namun pada saat yang sama, nilai rata-rata murid-muridnya sangat baik. Sehingga sifat keras Ibu Tati masih dianggap sesuai, demi mencapai hasil yang baik dari murid-muridnya. Sedang Ibu Sri adalah guru yang sabar dan tenang, namun ada beberapa muridnya yang memiliki nilai di bawah KKM. Suatu hari Ibu Sri datang ke ruangan Pak Seto selaku kepala sekolah, dan mengadukan perbuatan Ibu Tati yang menghukum salah satu muridnya di tengah terik matahari, berlutut di semen lapangan basket karena tidak membuat pekerjaan rumah.  Ibu Sri sangat khawatir karena murid tersebut sudah menangis, namun sepertinya Ibu Tati tetap mengajar di dalam kelas seperti biasa, karena menganggap menjemur anak di terik matahari adalah hukuman pantas karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Bila Anda adalah Pak Seto sebagai kepala sekolah, apa yang akan Anda lakukan? Pendekatan apa yang ambil? Dasar pemikiran apa yang melatarbelakangi keputusan Anda?

  1. Temuilah seorang rekan kerja Anda, dan tanyakan kesediaannya memberikan pendapatnya  tentang studi kasus di atas. 
  2. Analisis jawaban Anda dan rekan Anda, apakah berbeda, atau sama? 
  3. Tuliskan tanggapan Anda dan rekan Anda terhadap kasus Bapak Seto, beserta analisis Anda  terhadap kedua jawaban tersebut. 

Jika saya Pak Seto, saya akan pahami dulu situasi yang terjadi, setelah itu mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak. Dengan cara mendengarkan kedua guru tersebut dengan penuh perhatian, baik keluhan/ laporan bu Sri maupun alasan bu Tati atas tindakan yang dilakukan. Menggali informasi lebih lanjut yaitu memahami apakah ada alasan lain yang kuat sehingga bu Tati mengambil tindakan tersebut. Selain itu saya juga akan mengajak diskusi mencari solusi terbaik yang lebih efektik, atau cara lain yang bisa bu Tati berikan tanpa hukuman fisik.

Pendekan yang saya lakukan lebih kepada pendekatan personal, diskusi tanpa menghakimi, pendekatan berfokus pada situasi dan mencari solusi terbaik.

Yang melatarbelakangi keputusan saya untuk lebih mengenal dengan dekat(personal bu Tati) dan menggali potensi (ide) yang lebih baik lagi demi kebaikan murid itu sendiri.

Tanggapan Rekan sejawat (Bu Dedeh)

Pada tahap awal saya akan mendengarkan aduan dari bu Sri, lalu mendengarkan hal tersebut secara seksama, setelah itu saya meminta pendapat Bu Sri, apa yang akan dilakukan bu Sri ketika menjumpai siswa yang tidak mengerjakan PR. Tahap berikutnya, untuk mengkroscek kebenaran laporan bu Sri, saya juga memanggil bu Tuti dan bertanya bagaimana kronologi sampai siswa tersebut dijemur dilapangan basket. Saya tidak akan menjust Benar atau Salahnya, tindakan yang dilakukan oleh bu Tuti saat kami berkomunikasi, saya memberikan masukan yang lebih humanis dalam menangani siswa yang bermasalah, yaitu melaksanakan proses disiplin positif, yaitu menumbuhkan disiplin yang didorong dalam diri anak tanpa hukuman dan hadiah.

Dasar pemikiran saya ini adalah berlandaskan pada nilai kebajikan universal bahwa cinta kasih menjadi landasan utamanya

Analisa jawaban

Dari garis besar jawaban saya dan jawaban rekan sejawat saya tidak berbeda, kami sama-sama lebih kependekantan personal tanpa menghakimi.mendengar dari sisi bu Sri maupun alasan ibu Tati.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama